REVIEW MATERI 3 dan REVIEW VIDEO

  Nama : El Haanim Nur Diny

NIM  : B71219062

Kelas : A2

Materi 3

Tujuan, Fungsi & Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

Teori Pengembangan Tujuan, Fungsi Dan Peranna Dakwah dalam Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial.

Dakwah antarbudaya merupakan seruan pesan-pesan Islam yang disampaikan oleh seorang da‟i kepada seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang tradisi dan budayanya. Dengan demikian tujuan dakwah dalam komunikasi antar budaya yakni mencapai keberhasilan dakwah antarbudaya yaitu menyampaikan pesan-pesan  islam kepada masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang tradisi dan buday tanpa menyinggung perasaan atau dengan damai. Keberhasilan dakwah dalam komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kemampuan seorang da‟i dalam melakukan pendekatan pendekatan budaya dimana kegiatan dakwah itu dilakukan. Karena fakta membuktikan bahwa salah satu strategi dakwah yang sedang berkembang dan dianggap lebih ramah adalah strategi dakwah antarbudaya.

Teori Pengembangan Tujuan, Fungsi Dan Peranna Dakwah Dalam Komunikasi Antar Budaya

1. Resistance theory (teori resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.

2. Acculturation theory (teori akulturasi) atau teori percampuran. Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya.

3. Receptie theory (teori resepsi). Menerima sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.

4. Complementery theory (teori komplementer) yaitu terjadi proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary culture) (Aripudin, 2012. 19-22).

Dengan teori-teori di atas, maka akan lebih membantu memahami mengenai proses interaksi sosial dan dinamika dakwah yang menjadi realitas dalam masyarakat multikultural

 

Referensi

Abdullah. Dakwah Kultural dan Struktural. Bandung: Citapustaka Media Perintis. 2012.

Ahmad, Nur. “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam”. Jurnal ay-Tabsyir, Vol. 3, No.1 Juni 2015.

Aripudin, Acep. Dakwah Antar Budaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012.

Liliweri, Alo. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS. 2009.

Puspianto, Alim. “Dakwah Antar Budaya Di Era Cyber”. Jurnal an-Nida’, Vol. 8, No. 2, Maret – Agustus 2019.

Syarifah, Masykurotus. “Budaya dan Kearifan Dakwah”. Jurnal al-Balagh, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016.



 Review Video Tujuan, Fungsi & Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

·         Kaitan Antara Bahasa dan Budaya

Fungsi sosial dan fungsi budaya dari sebuah bahasa, Bahasa punya tiga fungsi yakni
1. sebagai komunikasi exchange atau pertukaran komunikasi

2. sebagai penunjuk identitas

3. sebagai pemersatu

·         Bahasa juga merupakan produk sosial atau produk budaya yang tidak terpisahkan dari budaya itu sendiri. Hal itu sesuai dengan pernyataan haliday (2004:114) bahwalanguage is thought of as one among the many semiotic systems that constitute the culture. Bahasa merupakan salah satu diantara banyak sistem semiotik yang berhubungan dengan budaya. Bahasa mencerminkan realitas budaya, karena bahasa merupakan produk kebudayaan.sebagai produk kebudayaan, bahasa merupakan cermin dari keseluruhan kehidupan masyarakat tersebut. Budaya yang berbeda akan menghasilkan bahasa yang berbeda pula. (Realitas Bahasa Terhadap Budaya Sebagai Penguatan Literasi Pendidikan Darwin Effendi Dan Achmad Wahidy. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang 12 Januari 2019)

 

·         Komunikasi Dakwah adalah segala bentuk komunikasi yang berisi pesan ajakan kepada Jalan Tuhan atau ajakan berbuat baik dan meninggalkan segala keburukan.

·         Komunikasi dakwah menyemaikan pesan keagamaan dalam berbagai tatanan komunikasi atau model komunikasi agar orang lain yang menjadi sasaran dakwah dapat terpanggil akan pentingnya Islam dan ajarannya dalam dunia ini. Di antara tatanan komunikasi yang dapat diimplementasikan pada dakwah, yaitu tatanan komunikasi antar pribadi, kelompok dan publik. Dilihat dari segi prosesnya, komunikasi dakwah hampir sama dengan komunikasi pada umumnya, tetapi yang membedakan antara keduanya hanya pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan komunikasi pada umumnya yaitu mengharapkan partisipasi dari komunikan (mad’u) atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampikan oleh pihak komunikator (da’i) sehingga pesan-pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan, sedangkan tujuan komunikasi dakwah yaitu mengharapkan terjadi nya perubahan atau pembentukan sikap atau tingkah laku sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam. (Ahmad Atabik.Konsep Komunikasi Dakwah Persuasif dalam Perspektif Al-Qur’an. AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam)

 

·         Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya

Mengenai tujuan dan fungsi dakwah dalam komunikasi lintas budaya menurut tujuan dan fungsi dari komunikasi lintas budaya bersifat kognitif atau dan afektif yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.

Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya dengan menggunakan metode tokoh yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat menjadikan Islam fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain yang pertama mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat yang kedua menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

Maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut dakwah dalam komunikasi lintas budaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan terjadinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai-nilai toleransi persaudaraan dan sebagai wujud dialog internal umat beragama serta sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.

Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya. Apabila sebelum kita melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan yang terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia, hal ini akan menambah khasanah yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Untuk mewujudkan keberlangsungan dakwah antar budaya ini tentunya yang perlu kita lakukan adalah tindakan-tindakan sikap, perilaku yang sudah terprogram secara baik dan dikerjakan sesuai dengan rencana yang matang, tidak dengan asal melakukan. Misalnya kita melakukan perencanaan, penyelenggaraan berdakwah dengan cara bagaimana agar dakwah kita tidak menyinggung perasaan bagi mereka yang tidak satu keyakinan dengan kita, begitu pula sebaliknya kita juga tidak mengganggu dan mengejek ibadah mereka sebatas mereka juga tidak mengganggu dengan ibadah yang kita lakukan. (Nur Ahmad. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam. At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam)

 

·         Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya

Menelisik mengenai budaya yakni dari kata Budi dan daya yang artinya kekuatan atau dorongan jadi Budaya adalah kekuatan akal karena kebudayaan yang merupakan ukuran pencurahan kekuatan manusia yang berpangkal pada akal pikiran hati maupun tindakan. Jadi kebudayaan bisa diaartikan sebagai cita-cita dan karya manusia dari hasil belajar. Adapun unsur-unsur budaya yaitu yang pertama sebagai sistem peralatan hidup yang kedua sebagai sistem pencaharian atau sistem kemasyarakatan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya yaitu pikiran cipta, rasa dan karsa, dan karya. Hasil keempat potensi budaya itulah yang disebut kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Nur Ahmad. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam. At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam)

Budaya dijadikan sebagai alat dakwah yang mempertimbangkan keberagaman antara Da'i dan mad'u dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat Intra dan antar budaya agar pesan dakwah itu tersampaikan dalam situasi damai kemudian pendekatan dakwah Intra dan antar budaya ini merupakan pendekatan budaya damai yang benar karena salah satu watak atau ciri Islam sebagai agama perdamaian.

Untuk mewariskan budaya tersebut, proses dakwah dilakukan melalui tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) proses dakwah dan nasihat baik, dan (3) keteladanan (role model). Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaan tersebut kepada keturunannya. Proses dakwah tidak lain merupakan proses transformasi nilai-nilai sosial budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda. Pengertian berdakwah jauh lebih luas dari pengertian nasehat. Proses dakwah bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dakwah tetapi juga pengalihan nilai-nilai sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms. (Nur Ahmad. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam. At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam)

 

·         Culture Shock

Konsep culture shock diperkenalkan oleh Oberg (1960) yang kemudian disempurnakan oleh Furnham dan Bochner (1970) menunjukkan bahwa culture shock terjadi biasanya dipicu oleh salah satu atau lebih dari tiga penyebab berikut ini, yaitu:

1) Kehilangan cues atau tanda-tanda yang dikenalnya. Padahal cues adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seperti tanda-tanda, gerakan bagianbagian tubuh (gestures), ekspresi wajah ataupun kebiasaan-kebiasaan yang dapat menceritakan kepada seseorang bagaimana sebaiknya bertindak dalam situasi-situasi tertentu.

2) Putusnya komunikasi antar pribadi baik pada tingkat yang disadari yang mengarahkan pada frustasi dan kecemasan. Halangan bahasa adalah penyebab jelas dari gangguan ini.

3) Krisis identitas dengan pergi keluar daerahnya seseorang akan kembali mengevaluasi gambaran tentang dirinya (dikutip dari Dayakisni, 2012: 265).

Culture shock dapat terjadi dalam lingkungan yang berbeda mengenai individu yang mengalami perpindahan dari satu daerah ke daerah lainnya dalam negerinya sendiri (intra-national) dan individu yang berpindah ke negeri lain untuk periode waktu lama (Dayakisni, 2012: 266).

Oberg lebih lanjut menjelaskan bahwa hal-hal tersebut benar dipicu oleh kecemasan yang timbul akibat hilangnya tanda dan lambang hubungan sosial yang selama ini familiar dikenalnya dalam interaksi sosial, seperti petunjuk-petunjuk dalam bentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma yang individu peroleh sepanjang perjalanan hidup sejak individu tersebut lahir (Mulyana, 2006:175).

Samovar menyatakan bahwa orang biasanya melewati empat tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U, sehingga disebut U – Curve, antara lain :

1) Fase optimistik, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. Fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru.

2) Masalah kultural, fase kedua di mana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, system lalu lintas baru, sekolah baru, dan lain-lain. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

3) Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orangorang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.

4) Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya seperti nilai-nilai, adab khusus, pola komunikasi, keyakinan, dan lain-lain (Samovar, Richard dan Edwin, 2010: 169). (Marshellena Devinta / Nur Hidayah Dan Grendi Hendrastomo. Fenomena Culture Shock (Gegar Budaya) Pada Mahasiswa Perantauan Di Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Sosiologi 2015)

Komentar