REVIEW VIDEO MATERI 3
NAMA : El Haanim Nur Diny
NIM : B71219062
·
Kaitan Antara Bahasa dan
Budaya
Fungsi sosial dan fungsi budaya dari sebuah bahasa, Bahasa punya tiga
fungsi yakni
1. sebagai komunikasi exchange atau pertukaran komunikasi
2. sebagai penunjuk identitas
3. sebagai pemersatu
·
Bahasa
juga merupakan produk sosial atau produk budaya yang tidak terpisahkan dari
budaya itu sendiri. Hal itu sesuai dengan pernyataan haliday (2004:114)
bahwalanguage is thought of as one among the many semiotic systems that
constitute the culture. Bahasa merupakan salah satu diantara banyak sistem
semiotik yang berhubungan dengan budaya. Bahasa mencerminkan realitas budaya,
karena bahasa merupakan produk kebudayaan.sebagai produk kebudayaan, bahasa merupakan
cermin dari keseluruhan kehidupan masyarakat tersebut. Budaya yang berbeda akan
menghasilkan bahasa yang berbeda pula. (Realitas Bahasa Terhadap Budaya Sebagai
Penguatan Literasi Pendidikan Darwin Effendi Dan Achmad Wahidy. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang 12
Januari 2019)
·
Komunikasi Dakwah adalah
segala bentuk komunikasi yang berisi pesan ajakan kepada Jalan Tuhan atau
ajakan berbuat baik dan meninggalkan segala keburukan.
·
Komunikasi
dakwah menyemaikan pesan keagamaan dalam berbagai tatanan komunikasi atau model
komunikasi agar orang lain yang menjadi sasaran dakwah dapat terpanggil akan
pentingnya Islam dan ajarannya dalam dunia ini. Di antara tatanan komunikasi
yang dapat diimplementasikan pada dakwah, yaitu tatanan komunikasi antar
pribadi, kelompok dan publik. Dilihat dari segi prosesnya, komunikasi dakwah
hampir sama dengan komunikasi pada umumnya, tetapi yang membedakan antara
keduanya hanya pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan komunikasi pada umumnya
yaitu mengharapkan partisipasi dari komunikan (mad’u) atas ide-ide atau
pesan-pesan yang disampikan oleh pihak komunikator (da’i) sehingga pesan-pesan
yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang
diharapkan, sedangkan tujuan komunikasi dakwah yaitu mengharapkan terjadi nya
perubahan atau pembentukan sikap atau tingkah laku sesuai dengan ajaran
al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam. (Ahmad Atabik.Konsep
Komunikasi Dakwah Persuasif dalam Perspektif Al-Qur’an. AT-TABSYIR, Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam)
·
Dakwah dalam Komunikasi
Lintas Budaya
Mengenai tujuan dan fungsi dakwah dalam komunikasi
lintas budaya menurut tujuan dan fungsi dari komunikasi lintas budaya bersifat
kognitif atau dan afektif yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang
membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam
segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia
kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga
dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol
berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.
Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya dengan
menggunakan metode tokoh yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama
menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat menjadikan
Islam fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun
memiliki perbedaan antara satu sama lain yang pertama mengajarkan dan
mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat yang kedua
menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses
dakwah
Maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat
dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut dakwah
dalam komunikasi lintas budaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah
terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat pesan dakwah yang menyampaikan
nilai ketuhanan terjadinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai-nilai
toleransi persaudaraan dan sebagai wujud dialog internal umat beragama serta
sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat
beragama.
Usaha dakwah antar budaya ini
mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik
bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya. Apabila
sebelum kita melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan
yang terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia, hal ini akan menambah khasanah
yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Untuk mewujudkan keberlangsungan
dakwah antar budaya ini tentunya yang perlu kita lakukan adalah
tindakan-tindakan sikap, perilaku yang sudah terprogram secara baik dan
dikerjakan sesuai dengan rencana yang matang, tidak dengan asal melakukan.
Misalnya kita melakukan perencanaan, penyelenggaraan berdakwah dengan cara
bagaimana agar dakwah kita tidak menyinggung perasaan bagi mereka yang tidak satu
keyakinan dengan kita, begitu pula sebaliknya kita juga tidak mengganggu dan
mengejek ibadah mereka sebatas mereka juga tidak mengganggu dengan ibadah yang
kita lakukan. (Nur Ahmad. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif
Islam. At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam)
·
Ruang Lingkup Dakwah
Antar Budaya
Menelisik mengenai budaya yakni dari kata Budi dan daya yang artinya
kekuatan atau dorongan jadi Budaya adalah kekuatan akal karena kebudayaan yang
merupakan ukuran pencurahan kekuatan manusia yang berpangkal pada akal pikiran
hati maupun tindakan. Jadi kebudayaan bisa diaartikan sebagai cita-cita dan karya
manusia dari hasil belajar. Adapun unsur-unsur budaya yaitu yang pertama
sebagai sistem peralatan hidup yang kedua sebagai sistem pencaharian atau sistem
kemasyarakatan
Budaya atau kebudayaan berasal dari
bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi (budi
atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya yaitu pikiran cipta, rasa
dan karsa, dan karya. Hasil keempat potensi budaya itulah yang disebut
kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan
karya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Nur Ahmad. Mewujudkan Dakwah
Antar Budaya Dalam Perspektif Islam. At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi Penyiaran
Islam)
Budaya dijadikan sebagai alat dakwah yang mempertimbangkan keberagaman
antara Da'i dan mad'u dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada
tingkat Intra dan antar budaya agar pesan dakwah itu tersampaikan dalam situasi
damai kemudian pendekatan dakwah Intra dan antar budaya ini merupakan pendekatan
budaya damai yang benar karena salah satu watak atau ciri Islam sebagai agama
perdamaian.
Untuk mewariskan budaya tersebut, proses dakwah dilakukan melalui
tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation),
(2) proses dakwah dan nasihat baik, dan (3) keteladanan (role model). Manusia
adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaan
tersebut kepada keturunannya. Proses dakwah tidak lain merupakan proses
transformasi nilai-nilai sosial budaya, yakni proses untuk mewariskan
kebudayaan kepada generasi muda. Pengertian berdakwah jauh lebih luas dari
pengertian nasehat. Proses dakwah bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan
dan keterampilan kepada masyarakat dakwah tetapi juga pengalihan nilai-nilai
sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms. (Nur
Ahmad. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam. At-Tabsyir, Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam)
·
Culture
Shock
Konsep culture shock diperkenalkan oleh Oberg (1960) yang kemudian
disempurnakan oleh Furnham dan Bochner (1970) menunjukkan bahwa culture shock
terjadi biasanya dipicu oleh salah satu atau lebih dari tiga penyebab berikut
ini, yaitu:
1) Kehilangan cues atau tanda-tanda yang dikenalnya. Padahal cues
adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seperti tanda-tanda, gerakan bagianbagian
tubuh (gestures), ekspresi wajah ataupun kebiasaan-kebiasaan yang dapat
menceritakan kepada seseorang bagaimana sebaiknya bertindak dalam
situasi-situasi tertentu.
2) Putusnya komunikasi antar pribadi baik pada tingkat yang
disadari yang mengarahkan pada frustasi dan kecemasan. Halangan bahasa adalah
penyebab jelas dari gangguan ini.
3) Krisis identitas dengan pergi keluar daerahnya seseorang akan
kembali mengevaluasi gambaran tentang dirinya (dikutip dari Dayakisni, 2012:
265).
Culture shock dapat terjadi dalam lingkungan yang berbeda mengenai
individu yang mengalami perpindahan dari satu daerah ke daerah lainnya dalam
negerinya sendiri (intra-national) dan individu yang berpindah ke negeri lain
untuk periode waktu lama (Dayakisni, 2012: 266).
Oberg lebih lanjut menjelaskan bahwa hal-hal tersebut benar dipicu
oleh kecemasan yang timbul akibat hilangnya tanda dan lambang hubungan sosial
yang selama ini familiar dikenalnya dalam interaksi sosial, seperti
petunjuk-petunjuk dalam bentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah,
kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma yang individu peroleh sepanjang
perjalanan hidup sejak individu tersebut lahir (Mulyana, 2006:175).
Samovar menyatakan bahwa orang biasanya melewati empat tingkatan
culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U,
sehingga disebut U – Curve, antara lain :
1) Fase optimistik, fase pertama yang digambarkan berada pada
bagian kiri atas dari kurva U. Fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan,
dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru.
2) Masalah kultural, fase kedua di mana masalah dengan lingkungan
baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, system lalu lintas
baru, sekolah baru, dan lain-lain. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa
dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. Orang menjadi
bingung dan tercengang dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah
tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan
menjadi tidak kompeten.
3) Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai
budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan
perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orangorang dan peristiwa
dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.
4) Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang
telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya seperti nilai-nilai, adab
khusus, pola komunikasi, keyakinan, dan lain-lain (Samovar, Richard dan Edwin, 2010:
169). (Marshellena Devinta / Nur Hidayah Dan Grendi Hendrastomo. Fenomena
Culture Shock (Gegar Budaya) Pada Mahasiswa Perantauan Di Yogyakarta. Jurnal
Pendidikan Sosiologi 2015)
Komentar
Posting Komentar