REVIEW MATERI 8

 

Nama : El Haanim Nur Diny

NIM  : B71219062

Kelas : A2

Semsester : 4


Materi 8 (Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern)

 

Manusia adalah makhluk yang berkomunikasi. Komunikasi menjadikan sadar pemaknaan dalam hubungan manusia. Melalui komunikasi pula manusia memanusiakan manusia lainnya, oleh karena itu pada intinya komunikasi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.

Proses komunikasi atau dakwah dalam kehidupan masa kini atau modern yang ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas, sudah meninggalkan fase transisi globalisasi. Masyarakat modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir yang lebih rasional.Dari semua tahapan kehidupan masyarakat sebelumnya, walaupun kadang pendidikan formal saja tidak cukup untuk mengantarkan masyarakat pada tingkat pengetahuan dan pola pikir semacam itu. Sebab, secara demografis masyarakat modern menempati lingkungan perkotaan yang cenderung gersang dan jauh dari situasi yang sejuk dan rindang (Bungin, 2006: 94).

Faktor hambatan komunikasi antar budaya secara umum yang sering terjadi antara lain: fisik, budaya, persepsi, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal)nonverbal, dan kompetisi.

1). Fisik – Hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.

2). Budaya – Hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.

3). Persepsi – Hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.

4). Motivasi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan mengakibatkan komunikasi menjadi terhambat.

5). Pengalaman – Hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu.

6). Emosi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

7). Bahasa – Hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa atau kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.

8). Nonverbal – Hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.

9). Kompetisi – Hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan.

 

Dalam proses berdakwah akan memunculkan hambatan-hambatan terlebih kita berdakwah pada daerah modern dan multikultural, hambatan dakwah yang cukup penting adalah menyangkut perbedaan paham yang sering membuat hubungan sosial antarpemeluk agama terganggu, bahkan dalam taraf tertentu bisa menimbulkan kerawanan sosial. Problem perbedaan ini tidak hanya terjadi dalam internal Islam saja, melainkan juga dalam tataran kehidupan antarumat beragama. Berbagai kasus ketegangan seperti di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Menurut Amin Abdullah, problem perbedaan dalam agama terjadi karena interpretasi manusia akan teks suci atau devinite text yang dipercaya sebagai ungkapan langsung dari Tuhan kepada manusia, sementara prakteknya di masyarakat tidak ada tafsir tunggal yang dijadikan pedoman.

Faktor lain yang menjadi hambatan dalam dakwah multikultural adalah adanya fanatisme yang berlebihan terdadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga apriori menolak pendapat orang lain di luar kelompok atau jamaahnya. Berikutnya, adalah buruk sangka terhadap orang lain dan memandang orang lain dengan pandangan sinis. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, dan ketenangan akan sulit bisa terwujud. Pada akhirnya Islam yang rahmatan lil alamin hanya ada dalam konsep dan tidak akan terlahir dalam kenyataan di Indonesia yang multikultur ini. Padahal, sejarah mencatat bahwa masuknya Islam di Nusantara dilakukan secara damai dan persuasif oleh para da’i, bukan karena kekuatan militer atau dukungan pemerintah. Hal ini berbeda dengan agama Kristen atau Katolik yang datang bersama dengan kolonial Belanda. Menurut ‘Abas Mahmud sebagaimana yang dikutip oleh Alwi Syihab, Islam bisa diterima dan berkembang di kepulauan Nusantara yang penduduknya sudah menganut agama lain, oleh karena faktor keteladanan yang baik dari para da’i yang membawanya. Di setiap penjuru negeri terdapat bukti bahwa keteladanan yang baik menjadi faktor penentu penyebaran Islam,bukan dengan kekerasan.

Solusi dari hambatan-hambatan tersebut yakni keteladanan, pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, dan adat istiadat menjadi faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa, menakut nakuti dan intimidasi yang tidak sesuai dengan semangat Islam sebagai agama damai. Dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural, model pendekatan dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil menyebarkan Islam di Nusantara perlu tetap dipelihara dan dikembangkan, sehingga nilai-nilai Islam bisa tetap hidup dan menjiwai kehidupan masyarakat.

 

Source:

Karya ilmiah Albul Karim Mahasiswa STAIN Kudus, Judul: Komunikasi Antar Budaya di Era Modern.pakarkomunikasi.comportal-ilmu.com

https://media.neliti.com/media/publications/57552-ID-dakwah-multikultural-di-indonesia-studi.pdf

https://www.youtube.com/watch?v=ZwwnRwk6PWA

https://www.youtube.com/watch?v=COIb7bpfdWk

https://www.youtube.com/watch?v=mxPnJOkzK4g

 

 

 

Komentar